Kisah Si Burung Pipit

 Ketika Cinta Menyapa, Salahkah?
 
Disebuah padang rumput hijau yang indah banyak burung-burung mencari makan dan bermain, diantaranya ialah sepasang burung pipit jantan dan betina yang sedang menjalin kasih. Dipadang rumput itulah mereka dipertemukan, hingga akhirnya timbul rasa saling mengagumi dan menyayangi, mereka adalah sepasang burung pipit muda yang baru mengenal dunia luar.

Setiap hari mereka bertemu di padang rumput hijau, menjalani hari dengan kasih sayang yang tulus, hingga akhirnya mereka beranjak dewasa dan mulai memikirkan kemanakah hubungan cinta itu akan dibawa. Si pipit betina amat menyayangi pipit jantan, begitu juga sebaliknya, tidak mungkin mereka dipisahkan. Ketika cinta telah menyatu kini mereka baru sadar, bahwa mereka memiliki banyak perbedaan, perbedaan yang begitu ketara, perbedaan yang menjadikan jurang pemisah diantara mereka, perbedaan yang membuat mereka menyalahkan sang cinta yang telah menghampiri mereka, perbedaan yang tidak akan habis dengan lamunan dan tangisan, perbedaan yang sungguh berbeda, perbadaan yang... hmm...

Si burung pipit jantan hanya bisa melamun menyadari kenyataan itu, ingin ia berteriak sekuat-kuatnya agar mereka mendengar jeritan hatinya, agar mereka mendengar kisah cintanya yang harus kandas, agar mereka ikut merasakan getirnya kenyataan yang ia terima, burung pipit jantan kesal, marah, kecewa, mengapa harus ada perbedaan? Mengapa semuanya harus ada pembatas, adilkah semua ini? Hmm... Bukan maksud si burung pipit jantan meragukanNya, atau menyalahkan ketetapanNya, ia hanya kecewa, patah hati, ia hanya seekor pipit muda yang baru mengenal cinta, yang ternyata tak berjalan mulus, yang ternyata harus berakhir dengan kesedihan, yang ternyata harus berakhir dengan perpisahan, hanya karena 'perbedaan'.

Akhirnya si pipit jantan mulai bisa menerima kenyataan, mulai menata hatinya, mulai menyadari bahwa ia hanya seekor burung, ia tidak bisa merubah segalanya, ia tidak bisa merubah yang telah disuratkan. Dan ia memilih untuk terus terbang meninggalkan padang rumput hijau, membawa hatinya yang masih luka, tanpa harapan, tanpa tujuan , hanya sekedar terbang mengepakkan sayap yang sudah letih mengikuti arah matahati.

Ia terus terbang tanpa henti, melewati rimba, menyusuri lautan, hingga akhirnya sampai di sebuah benua yang sama sekali asing baginya, dengan harapan baru ia berhenti di benua itu, mencoba menyesuaikan diri dan belajar. Disitulah ia mendapatkan banyak pengalaman baru, lingkungan baru, harapan baru, jati diri baru bahwa ia lebih daripada hanya seekor burung pipit, bahwa ia masih bisa menatap cerah masa depannya.

Ketika ia mengingat kembali padang rumput hijau, ia ingat pada si pipit betina, dan ia mendapati dalam hatinya luka lama masih menganga, dan ketika ia membaca kembali tulisan ini, si burung pipit jantan sedih, 'ketika cinta menyapa, salahkah?' ---BERSAMBUNG---

September 2008, Padang Rumput Hijau - Tangerang.
 
Sumber:  Sisi Lain